Dalam aktivitas logistik dan pergudangan, forklift sering dianggap sebagai alat bantu rutin—digunakan setiap hari, bergerak dari satu titik ke titik lain, mengangkat beban yang tampak “masih aman-aman saja”. Namun di balik pergerakan mast dan garpu tersebut, terdapat satu komponen yang bekerja secara senyap namun memikul risiko besar: rantai forklift.
Berbeda dengan silinder hidrolik yang mudah terlihat atau garpu yang kasat mata mengalami deformasi, kerusakan rantai sering berkembang secara perlahan dan tidak disadari. Pemanjangan beberapa milimeter, keausan pin, atau ketidakseimbangan kiri–kanan kerap luput dari perhatian—hingga suatu saat beban jatuh tanpa peringatan.
Di sinilah pentingnya memahami jenis rantai forklift dan metode pengukurannya sebagai bagian dari implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta uji riksa Pesawat Angkat dan Angkut (PAA).
Secara umum, forklift menggunakan rantai yang dirancang khusus untuk aplikasi angkat vertikal, bukan sekadar transmisi gerak. Setiap jenis rantai memiliki karakteristik dan risiko kegagalannya masing-masing.
Leaf chain merupakan jenis rantai yang paling umum digunakan pada sistem mast forklift. Rantai ini tersusun dari lapisan plat baja (link plate) yang disatukan oleh pin, tanpa roller seperti pada rantai transmisi.
Karakter desain ini membuat leaf chain sangat kuat menahan beban tarik, namun di sisi lain lebih sensitif terhadap keausan pin dan pemanjangan. Karena tidak berputar pada sprocket, kegagalan leaf chain sering terjadi secara mendadak apabila tidak dilakukan pengukuran secara berkala.
Pada beberapa tipe forklift, roller chain digunakan untuk sistem pendukung atau mekanisme tambahan, bukan sebagai rantai utama pengangkat beban.
Walaupun lebih fleksibel, roller chain tidak dirancang untuk beban statis vertikal jangka panjang, sehingga penggunaannya harus dibatasi dan diawasi secara ketat dari sisi K3.
Jenis rantai ini umumnya digunakan pada forklift heavy duty atau aplikasi khusus dengan beban besar. Material baja paduan memberikan ketahanan tinggi terhadap beban kejut dan kelelahan material, namun tetap memerlukan pemeriksaan dimensi dan kondisi permukaan secara berkala.
Berbeda dengan pemeriksaan visual yang bersifat subjektif, pengukuran rantai memberikan data objektif tentang kelayakan operasi forklift. Inilah aspek yang menjadi fokus utama dalam uji riksa K3.
Pemanjangan merupakan indikator keausan paling kritis. Setiap kali forklift mengangkat beban, terjadi gesekan mikro antara pin dan link plate yang secara bertahap memperpanjang rantai.
Pengukuran dilakukan dengan:
Mengukur panjang sejumlah pitch tertentu
Membandingkannya dengan panjang standar pabrikan
Secara praktik industri yang sering dijadikan acuan teknis (pada standar ANSI/DIN/ISO yang berlaku untuk forklift), rantai dianggap perlu diganti ketika pemanjangan mencapai sekitar 3% dari panjang nominalnya.
2. Pemeriksaan Diameter Pin
Pin yang aus mengurangi kekuatan tarik rantai. Pengukuran diameter pin menggunakan alat ukur presisi seperti jangka sorong untuk memastikan nilainya masih dalam toleransi.
Rantai kiri dan kanan mast harus memiliki panjang dan ketegangan yang sama. Ketidakseimbangan menyebabkan:
Beban terangkat miring
Tekanan tidak merata
Keausan dipercepat pada satu sisi
Pada konteks uji riksa PAA, rantai forklift dikategorikan sebagai komponen keselamatan kritikal. Pemeriksaan dan pengujian berkala bukan sekadar formalitas administratif, melainkan upaya pencegahan terhadap kegagalan yang tidak terlihat secara kasat mata.
Rantai yang tampak “masih utuh” belum tentu masih aman. Tanpa pengukuran dan evaluasi teknis yang tepat, risiko kecelakaan tetap mengintai di setiap proses angkat.
Rantai forklift mungkin tersembunyi di balik mast dan silinder hidrolik, namun perannya sangat menentukan keselamatan kerja. Dengan memahami jenis-jenis rantai serta metode pengukurannya, perusahaan dapat memastikan bahwa setiap forklift yang beroperasi benar-benar layak, aman, dan sesuai prinsip K3—terutama melalui pelaksanaan uji riksa yang profesional dan berstandar.