Dalam dunia K3, kecelakaan kerja jarang terjadi karena satu alasan saja. Biasanya, ada mata rantai yang terputus antara kondisi lapangan, kesiapan orang yang bekerja, dan kondisi mesin itu sendiri. Di musim hujan seperti sekarang, risiko ini meningkat berkali-kali lipat karena medan kerja berubah menjadi jauh lebih berbahaya.
Lingkungan kerja adalah faktor luar yang paling sulit diprediksi. Saat hujan turun, masalah utama bukan hanya airnya, tetapi bagaimana air tersebut mengubah struktur tanah. Secara teknis, tanah yang terkena air terus-menerus akan kehilangan kekuatan tumpuannya.
Bagi alat berat berbobot puluhan ton, tanah yang melunak adalah ancaman besar karena bisa menyebabkan alat amblas atau bahkan terguling secara tiba-tiba. Selain itu, genangan air sering kali menutupi lubang atau perbedaan tinggi landasan, yang jika ditambah dengan jarak pandang yang terbatas akibat kabut, akan menciptakan jebakan berbahaya bagi siapapun yang beroperasi di area tersebut.
Operator adalah otak dari setiap pergerakan alat berat. Namun, bekerja di bawah guyuran hujan membutuhkan konsentrasi dua kali lebih besar daripada kondisi normal. Operator harus terus-menerus menyesuaikan cara mengemudi dengan kondisi jalan yang licin.
Masalah muncul ketika operator mulai kelelahan (fatigue). Dalam kondisi lelah, kemampuan mata untuk melihat dalam gelap atau hujan akan menurun, dan respon tangan saat mengerem atau memutar kemudi menjadi lebih lambat. Di sinilah pentingnya aturan jam kerja yang ketat; bukan sekadar soal disiplin, tapi untuk memastikan operator selalu dalam kondisi mental yang tajam saat harus mengambil keputusan sulit di medan yang berlumpur.
Alat berat mungkin terlihat kokoh, namun mereka memiliki komponen sensitif yang rentan terhadap air dan kelembaban. Musim hujan mempercepat proses karat dan bisa mengganggu sistem kelistrikan atau sensor-sensor keamanan pada alat.
Secara teknis, rem yang biasanya pakem bisa menjadi kurang responsif saat basah. Inilah mengapa Riksa Uji (Pemeriksaan dan Pengujian) menjadi sangat penting. Riksa uji memastikan bahwa alat tersebut tidak hanya "bisa jalan", tapi benar-benar aman secara sistem—mulai dari fungsi rem, kekuatan hidrolik, hingga lampu peringatan. Melakukan pemeriksaan rutin sebelum kerja (P2H) bukan sekadar formalitas, melainkan cara untuk memastikan bahwa mesin tidak akan gagal di saat yang paling krusial.
Keselamatan kerja yang efektif adalah hasil kerja sama antara lingkungan yang tertata, operator yang fit, dan alat berat yang laik jalan. Di musim hujan, toleransi terhadap kesalahan sangat kecil. Oleh karena itu, memastikan alat berat telah melalui Riksa Uji secara resmi adalah langkah paling dasar dan wajib untuk mencegah kecelakaan fatal sebelum proyek dimulai.