Bulan Ramadhan merupakan periode ibadah yang dijalankan oleh umat Islam, di mana terjadi perubahan pola makan, tidur, dan ritme biologis harian. Dalam konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), perubahan ini perlu dipandang sebagai variabel risiko tambahan yang harus dikelola secara sistematis.
Puasa bukan penyebab kecelakaan kerja. Namun, perubahan kondisi fisiologis dapat meningkatkan probabilitas human error apabila tidak diantisipasi melalui pendekatan manajemen risiko yang adaptif.
Selama berpuasa, pekerja mengalami:
Penurunan asupan cairan ? potensi dehidrasi
Perubahan pola tidur ? fatigue
Fluktuasi kadar gula darah ? penurunan konsentrasi
Penurunan stamina fisik pada pekerjaan berat
Pada pekerjaan berisiko tinggi seperti pengoperasian alat berat, instalasi listrik, pekerjaan di ketinggian, maupun peralatan bertekanan, kondisi ini dapat meningkatkan potensi insiden apabila kontrol tidak diperkuat.
Berikut gambaran komparatif analisis risiko menggunakan pendekatan sederhana (Likelihood x Severity):
Dari tabel tersebut terlihat bahwa yang berubah bukan tingkat keparahan (severity), melainkan probabilitas (likelihood) terjadinya kesalahan akibat faktor fisiologis.
Jam Kritis Operasional Selama Ramadan
Secara umum terdapat dua periode yang perlu perhatian khusus:
Menjelang siang hari – energi mulai menurun.
Menjelang berbuka puasa – fatigue meningkat dan muncul kecenderungan menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.
Pada fase ini, risiko bukan berasal dari peralatan, melainkan dari penurunan kewaspadaan pekerja.
1?. Pengendalian Administratif
Penjadwalan ulang pekerjaan berisiko tinggi ke pagi hari
Rotasi tenaga kerja
Safety briefing khusus Ramadan
Monitoring kondisi fisik pekerja
2?. Pengendalian Teknis
Optimalisasi ventilasi dan pengurangan paparan panas
Pre-start inspection lebih disiplin
Pengawasan tambahan pada sistem kritis
3?. Penguatan Safety Culture
Standar K3 tidak boleh diturunkan
Dorongan pelaporan near miss
Evaluasi risiko musiman sebagai bagian dari continuous improvement
Ramadan bukan hambatan dalam penerapan K3, melainkan momentum untuk memperkuat disiplin dan kesadaran risiko. Ketika energi fisik menurun, sistem pengendalian harus ditingkatkan. Dengan pendekatan manajemen risiko yang adaptif dan berbasis data, perusahaan tetap dapat menjaga produktivitas tanpa mengorbankan keselamatan. Karena dalam K3, pencegahan selalu lebih murah daripada penanganan insiden.