Logo Cahaya Perkasa Inspeksindo
Jangan Abaikan K3! Potensi Bahaya Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Berdasarkan Permenaker No. 8 Tahun 2020
Edukasi K3

Jangan Abaikan K3! Potensi Bahaya Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Berdasarkan Permenaker No. 8 Tahun 2020

A Admin • 09 Sep 2026 • 8 menit baca
Jangan Abaikan K3! Potensi Bahaya Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut Berdasarkan Permenaker No. 8 Tahun 2020

Penggunaan Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut (PAPA) menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan industri. Crane, forklift, hoist, conveyor, dan berbagai jenis peralatan lainnya membantu perusahaan memindahkan material dan barang dengan lebih cepat dan efisien.

Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat risiko keselamatan yang cukup besar. PAPA bekerja dengan beban berat, pergerakan mekanis, energi listrik atau hidrolik, serta melibatkan interaksi antara operator, pekerja, material, dan lingkungan kerja.

Apabila tidak dioperasikan dan dipelihara dengan baik, kondisi tersebut dapat menyebabkan kecelakaan kerja yang serius.

Oleh karena itu, penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut menjadi hal yang sangat penting.

Salah satu regulasi yang menjadi acuan adalah Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2020 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut.

Apa Itu Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut?

Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut merupakan peralatan yang digunakan untuk mengangkat, mengangkut, memindahkan, dan menurunkan material, barang, atau dalam kondisi tertentu orang, sesuai dengan fungsi dan persyaratan peralatan tersebut.

Di lingkungan kerja, PAPA dapat ditemukan dalam berbagai bentuk dan jenis. Beberapa contoh yang umum digunakan antara lain:

  • Crane
  • Tower Crane
  • Mobile Crane
  • Overhead Crane
  • Gantry Crane
  • Hoist
  • Forklift
  • Conveyor
  • Alat bantu angkat dan angkut lainnya

Setiap jenis alat mempunyai karakteristik, kapasitas, sistem kerja, dan potensi bahaya yang berbeda. Karena itu, pengendalian risiko harus disesuaikan dengan jenis peralatan dan pekerjaan yang dilakukan.

Mengapa PAPA Memiliki Risiko Tinggi?

Bayangkan sebuah crane mengangkat material dengan berat beberapa ton beberapa meter di atas permukaan tanah. Selama proses tersebut, beban ditopang oleh berbagai komponen seperti hook, sling, wire rope, pulley, drum, struktur, serta sistem penggerak dan pengaman.

Jika salah satu bagian mengalami kegagalan atau pekerjaan dilakukan tidak sesuai prosedur, akibatnya dapat menjadi sangat serius.

Risiko juga tidak hanya berasal dari kerusakan alat. Kesalahan manusia, kondisi lingkungan, metode kerja, komunikasi, serta kurangnya pemeriksaan dapat menjadi faktor penyebab kecelakaan.

Beberapa Potensi Bahaya pada Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut

1. Beban Jatuh

Salah satu bahaya paling serius dalam kegiatan pengangkatan adalah beban jatuh.

Beban dapat jatuh akibat berbagai faktor, seperti:

  • Sling mengalami kerusakan atau putus.
  • Hook atau pengaman hook mengalami masalah.
  • Pengikatan beban tidak benar.
  • Lifting accessories tidak sesuai.
  • Beban melebihi kapasitas.
  • Beban tidak seimbang.
  • Kesalahan operator atau personel lifting.

Beban yang jatuh dapat menimpa pekerja, kendaraan, bangunan, maupun peralatan lain di bawah atau di sekitar area pengangkatan.

Karena itu, area di bawah dan sekitar beban yang sedang diangkat harus dikendalikan dengan baik.

2. Alat Terguling atau Kehilangan Stabilitas

Risiko kehilangan stabilitas terutama perlu diperhatikan pada peralatan seperti mobile crane dan forklift.

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi stabilitas antara lain:

  • Kondisi permukaan tanah.
  • Kemiringan area kerja.
  • Distribusi beban.
  • Posisi beban.
  • Kapasitas alat.
  • Cara pengoperasian.
  • Kondisi sistem penstabil.
  • Kondisi lingkungan kerja.

Alat yang kehilangan stabilitas dapat terguling dan menyebabkan kerusakan besar serta membahayakan pekerja di sekitarnya.

3. Kegagalan Wire Rope, Sling, atau Chain

Komponen pengangkatan merupakan bagian yang sangat penting dalam operasi lifting.

Wire rope, sling, chain, shackle, hook, dan komponen lainnya dapat mengalami keausan, korosi, deformasi, kerusakan mekanis, retak, atau putus.

Kerusakan yang tidak terdeteksi dapat menyebabkan kegagalan saat alat sedang mengangkat beban.

Oleh karena itu, pemeriksaan kondisi komponen harus menjadi bagian dari pengendalian risiko sebelum pekerjaan dilakukan.

4. Terjepit, Tertimpa, atau Terkena Beban

Pekerja yang berada terlalu dekat dengan peralatan atau material yang sedang dipindahkan dapat mengalami risiko terjepit maupun tertimpa.

Contohnya terjadi ketika:

  • Material diturunkan ke area sempit.
  • Beban bergerak mendekati struktur.
  • Pekerja berdiri di antara beban dan objek tetap.
  • Pekerja mencoba mengarahkan beban dengan posisi tubuh yang tidak aman.

Prinsip penting dalam kegiatan lifting adalah jangan menempatkan tubuh pada posisi yang berpotensi menjadi titik jepit atau berada di bawah beban yang tergantung.

5. Tertabrak Peralatan

Forklift, crane, dan alat angkut lainnya memiliki area pergerakan yang dapat membahayakan pekerja.

Risiko tabrakan dapat meningkat ketika:

  • Jalur alat dan pejalan kaki tidak dipisahkan.
  • Area memiliki blind spot.
  • Operator tidak dapat melihat seluruh area.
  • Komunikasi tidak efektif.
  • Kecepatan alat tidak sesuai kondisi.
  • Tidak tersedia pengendalian lalu lintas internal.

Pengaturan jalur, rambu, pembatas area, serta komunikasi yang baik sangat penting untuk mengurangi risiko tersebut.

6. Beban Berlebih atau Overload

Mengoperasikan alat melebihi kapasitas yang diizinkan merupakan salah satu kondisi yang sangat berbahaya.

Beban yang terlihat masih mampu diangkat belum tentu berarti aman untuk diangkat.

Overload dapat memberikan tekanan berlebihan terhadap struktur dan komponen peralatan serta meningkatkan risiko kehilangan stabilitas atau kegagalan komponen.

Operator harus mengetahui kapasitas peralatan dan mengikuti batas penggunaan yang ditetapkan.

7. Beban Berayun

Beban yang tergantung dapat mengalami ayunan ketika:

  • Pengangkatan dilakukan terlalu cepat.
  • Pergerakan crane terlalu mendadak.
  • Beban tidak seimbang.
  • Terjadi pengaruh angin.
  • Teknik pengangkatan tidak tepat.

Beban yang berayun dapat menghantam pekerja, struktur bangunan, kendaraan, maupun peralatan lainnya.

Pengendalian kecepatan, metode lifting yang tepat, dan komunikasi yang baik menjadi bagian penting dalam mengendalikan risiko ini.

8. Bahaya Listrik

Pekerjaan menggunakan crane atau peralatan dengan komponen listrik juga memiliki potensi bahaya listrik.

Risiko dapat muncul apabila bagian peralatan atau beban yang diangkat berada terlalu dekat dengan sumber listrik atau jaringan listrik.

Dampaknya dapat berupa:

  • Sengatan listrik.
  • Luka bakar.
  • Arc flash.
  • Kebakaran.
  • Kerusakan peralatan.
  • Fatality.

Karena itu, kondisi lingkungan kerja dan keberadaan jaringan listrik harus diperhatikan sebelum pekerjaan dilakukan.

9. Kegagalan Rem dan Sistem Kontrol

Rem dan sistem kontrol merupakan bagian penting untuk memastikan pergerakan alat dapat dikendalikan.

Apabila sistem mengalami kegagalan, alat atau beban dapat bergerak tidak sesuai yang diharapkan.

Kondisi seperti ini dapat menyebabkan tabrakan, beban jatuh, atau pekerja terjepit.

Pemeriksaan fungsi sistem keselamatan dan kontrol harus dilakukan sesuai prosedur serta ketentuan yang berlaku.

10. Kegagalan Struktur atau Komponen

Struktur peralatan dapat mengalami kerusakan akibat:

  • Korosi.
  • Kelelahan material.
  • Retak.
  • Deformasi.
  • Beban berlebih.
  • Modifikasi yang tidak sesuai.
  • Kurangnya pemeliharaan.

Kerusakan struktur yang dibiarkan dapat berkembang menjadi kegagalan yang lebih serius.

Karena itu, kondisi struktur dan komponen harus menjadi bagian dari pemeriksaan dan pemeliharaan peralatan.

11. Blind Spot

Operator tidak selalu dapat melihat seluruh area kerja. Blind spot dapat menyebabkan operator tidak menyadari keberadaan pekerja, kendaraan, atau objek lain di sekitar alat.

Risiko dapat semakin besar pada forklift dan alat angkut yang memiliki area pandang terbatas.

Penggunaan signalman, komunikasi radio, alarm, kamera, cermin, serta pengaturan jalur kerja dapat menjadi bagian dari strategi pengendalian sesuai kebutuhan pekerjaan.

12. Kesalahan Manusia atau Human Error

Teknologi dan sistem keselamatan tidak akan efektif apabila manusia yang menjalankannya tidak kompeten atau tidak mengikuti prosedur.

Kesalahan dapat berupa:

  • Salah membaca kapasitas.
  • Salah memberikan aba-aba.
  • Salah memasang sling.
  • Tidak melakukan pemeriksaan awal.
  • Mengoperasikan alat dengan cara yang tidak aman.
  • Mengabaikan kondisi abnormal.
  • Tidak menggunakan alat pelindung diri sesuai risiko.

Oleh karena itu, kompetensi operator dan personel terkait merupakan bagian penting dari keselamatan PAPA.

Pentingnya Pemeriksaan dan Pengujian PAPA

Berbagai potensi bahaya tersebut menunjukkan bahwa kondisi peralatan tidak boleh hanya dinilai dari apakah alat masih dapat beroperasi atau tidak.

Alat yang masih bisa bergerak belum tentu berarti alat tersebut aman digunakan.

Pemeriksaan dan pengujian diperlukan untuk membantu memastikan kondisi peralatan memenuhi persyaratan keselamatan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dalam proses tersebut, kondisi berbagai komponen dan aspek keselamatan dapat dievaluasi berdasarkan jenis dan karakteristik peralatan.

Hasil pemeriksaan dapat membantu perusahaan mengetahui apakah terdapat kondisi yang membutuhkan:

  • Perbaikan.
  • Penggantian komponen.
  • Penyesuaian penggunaan.
  • Pemeliharaan.
  • Pengendalian risiko tambahan.

Riksa Uji sebagai Bagian dari Pencegahan Kecelakaan

Riksa uji seharusnya tidak dipandang hanya sebagai kewajiban administratif.

Lebih dari itu, pemeriksaan dan pengujian merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mengidentifikasi kondisi tidak aman dan memastikan aspek keselamatan peralatan diperhatikan sebelum digunakan dalam pekerjaan.

Dengan pemeriksaan yang dilakukan secara tepat, potensi masalah pada peralatan dapat diketahui lebih awal sehingga tindakan yang diperlukan dapat dilakukan.

K3 PAPA Membutuhkan Peran Semua Pihak

Keselamatan PAPA bukan hanya tanggung jawab operator.

Perusahaan, operator, teknisi, rigger, signalman, pengawas, dan personel terkait memiliki peran masing-masing dalam memastikan pekerjaan berjalan aman.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan perusahaan meliputi:

  1. Menggunakan peralatan sesuai fungsi dan kapasitasnya.
  2. Memastikan pemeriksaan dan pengujian dilakukan sesuai ketentuan.
  3. Memastikan personel yang mengoperasikan atau menangani peralatan memiliki kompetensi sesuai pekerjaannya.
  4. Melaksanakan pemeliharaan secara berkala.
  5. Melakukan pemeriksaan kondisi sebelum penggunaan.
  6. Mengendalikan area operasi.
  7. Menyediakan prosedur kerja yang aman.
  8. Menindaklanjuti setiap temuan atau kondisi tidak aman.

Kesimpulan

Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut (PAPA) merupakan peralatan yang sangat membantu kegiatan industri, tetapi juga memiliki potensi bahaya yang besar.

Beban jatuh, alat terguling, sling atau wire rope putus, overload, beban berayun, tertabrak, terjepit, bahaya listrik, kegagalan komponen, blind spot, hingga human error merupakan beberapa risiko yang harus dikendalikan.

Penerapan K3 tidak cukup hanya dengan memastikan alat dapat beroperasi. Kondisi teknis peralatan, kompetensi personel, prosedur kerja, pemeliharaan, lingkungan kerja, serta pemeriksaan dan pengujian harus menjadi bagian dari sistem keselamatan.

Jangan menunggu alat gagal atau kecelakaan terjadi untuk mengetahui bahwa ada masalah.

Pastikan aspek keselamatan PAPA diperiksa, diuji, dipelihara, dan dioperasikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dasar Hukum

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2020 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut.

Sumber resmi JDIH Kementerian Ketenagakerjaan:

Permenaker No. 8 Tahun 2020 - JDIH Kemnaker

Tags: Riksa Uji K3 Permenaker No. 8 Tahun 2020

Bagikan artikel ini

Bantu sebarkan informasi K3 kepada rekan kerja Anda